Dari Bahasa ke Peluang Global, HMPS TADRIS BAHASA INGGRIS STAI Siliwangi Bandung Hadirkan fLTC 2026

Dari Bahasa ke Peluang Global, HMPS TADRIS BAHASA INGGRIS STAI Siliwangi Bandung Hadirkan fLTC 2026

 

“Bahasa bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk digunakan—menghubungkan manusia, membuka kesempatan, dan menciptakan masa depan.”

Cimahi – Bahasa bukan sekadar sesuatu yang dipelajari di ruang kelas. Bahasa dapat menjadi jembatan untuk menjelajahi dunia, mengenal budaya baru, dan membuka berbagai peluang masa depan. Semangat inilah yang dihadirkan dalam kegiatan From Language to Talent & Career (fLTC) 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Bahasa Inggris, English Students Association (ESA), STAI Siliwangi Bandung, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.


 

Mengusung tema “Global Voices, Future Skills”, kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Bahasa ini menghadirkan Peter Havrillak dan Ranto Sasaki, mahasiswa program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Telkom University. Keduanya berbagi pengalaman tentang bagaimana kemampuan berbahasa dapat membuka kesempatan untuk belajar, berinteraksi, dan melakukan perjalanan ke berbagai negara.

Salah satu hal menarik dari sesi tersebut adalah pengalaman keduanya dalam mempelajari bahasa Indonesia. Meskipun baru sekitar dua bulan berada di Indonesia, mereka telah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai situasi. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penguasaan bahasa tidak hanya bergantung pada pembelajaran formal, tetapi juga pada keberanian untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.


 

Tidak hanya berbagi pengalaman belajar bahasa, Peter juga menyampaikan pandangannya tentang budaya belajar siswa di Indonesia. Ia mengapresiasi sikap hormat siswa Indonesia kepada guru serta kebiasaan mereka mengikuti aturan yang ditetapkan. Menurutnya, sikap hormat tersebut merupakan hal positif yang ia sukai dan tidak banyak ia temukan di negara asalnya, Slovakia. Namun, ia juga melihat perlunya ruang yang lebih besar bagi kreativitas siswa. Baginya, siswa perlu didorong untuk berpikir kreatif, mengeksplorasi berbagai cara, dan menemukan strategi terbaik bagi dirinya sendiri untuk berkembang, termasuk dalam mempelajari bahasa.

Pesan lain yang mengemuka adalah pentingnya kepercayaan diri. Ketika menjawab salah satu pertanyaan peserta, Peter menyampaikan pesan singkat, “Be confident.” Ia mendorong peserta untuk berani mencoba, berkomunikasi, dan mengambil kesempatan tanpa harus menunggu kemampuan bahasa mereka menjadi sempurna.

Senada dengan itu, Ranto turut mengingatkan peserta agar tidak minder ketika menggunakan bahasa Inggris. Menurut pengamatannya, kemampuan berbicara bahasa Inggris orang Jepang tidak selalu lebih baik daripada orang Indonesia. Karena itu, ia mendorong peserta untuk tidak terlalu khawatir membandingkan kemampuan diri dengan orang lain, melainkan mulai mempraktikkan bahasa Inggris secara langsung.

Suasana kegiatan semakin interaktif ketika peserta berkesempatan mengajukan pertanyaan seputar cara menguasai bahasa Inggris, beradaptasi di negara lain, hingga peluang untuk melanjutkan pengalaman belajar dan perjalanan ke luar negeri. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa memiliki keterkaitan erat dengan rasa ingin tahu dan aspirasi generasi muda terhadap pengalaman global.


 

“Sorry, my English is bad”

“Tidak ada bahasa Inggris yang jelek, yang ada hanya grammarnya yang jelek.”

Dalam kesempatan tersebut, Pak Edwin, dosen Tadris Bahasa Inggris, turut mengkritisi kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang kerap merendahkan kemampuan bahasa Inggrisnya sendiri sebelum mencoba berbicara. Ungkapan seperti “Sorry, my English is bad” sering kali muncul bahkan sebelum percakapan dimulai. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu diubah karena dapat menghambat kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

Ia kemudian menyampaikan pesan yang cukup menggelitik sekaligus reflektif: “Tidak ada bahasa Inggris yang jelek, yang ada hanya grammarnya yang jelek.” Pesan ini mengajak peserta untuk tidak menjadikan kesalahan tata bahasa sebagai alasan untuk diam. Sebab, kemampuan berbahasa tumbuh melalui keberanian untuk mencoba, menerima kesalahan, dan terus memperbaiki diri.


 

Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, tetapi juga mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, pelajar SMA/sederajat, serta masyarakat umum. Turut hadir Ketua Program Studi Tadris Bahasa Inggris, Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, serta sejumlah dosen Tadris Bahasa Inggris.

Melalui fLTC 2026, HMPS ESA menunjukkan peran organisasi mahasiswa sebagai ruang pengembangan kreativitas, kepemimpinan, dan pengalaman belajar di luar perkuliahan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Program Studi Tadris Bahasa Inggris dalam menghadirkan pembelajaran bahasa yang lebih kontekstual, komunikatif, dan terhubung dengan kebutuhan masa depan.


 

Bagi STAI Siliwangi Bandung, kegiatan semacam ini mencerminkan pentingnya lingkungan kampus yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berinisiatif, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun pengalaman dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih luas.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama Peter Havrillak, Ranto Sasaki, pimpinan, dosen, dan seluruh peserta. Penutup bagi sebuah kegiatan yang tidak hanya menghadirkan cerita tentang dunia, tetapi juga mendorong peserta untuk mulai mengambil langkah menuju dunia yang lebih luas. 

(fdz)

Share This

Comments